Jumat, 06 April 2012

Istana Bunga

Dahulu kala, hiduplah
raja dan ratu yang kejam. Keduanya suka berfoya-foya dan menindas rakyat
miskin. Raja dan Ratu ini mempunyai putra dan putri yang baik hati. Sifat
mereka sangat berbeda dengan kedua orangtua mereka itu. Pangeran Aji Lesmana
dan Puteri Rauna selalu menolong rakyat yang kesusahan. Keduanya suka menolong
rakyatnya yang memerlukan bantuan.
Suatu hari, Pangeran Aji Lesmana
marah pada ayah bundanya, “Ayah dan Ibu jahat, Mengapa menyusahkan orang
miskin?!” Raja dan Ratu sangat marah mendengar perkataan putra mereka itu. “Jangan
mengatur orangtua! Karena kau telah berbuat salah, aku akan menghukummu. Pergilah
dari istana ini!” usir Raja. Pangeran Aji Lesmana tidak terkejut. Justru Puteri
Rauna yang tersentak, lalu menangis memohon kepada ayah bundamya, “Jangan, usir
Kakak! Jika Kakak harus pergi, saya pun pergi!” Raja dan Ratu sedang naik
pitam. Mereka membiarkan Puteri Rauna pergi mengikuti kakaknya. Mereka
mengembara. Menyamar menjadi orang biasa. Mengubah nama menjadi Kusmantoro dan
Kusmantari. Mereka pun mencari guru untuk mendapat ilmu. Mereka ingin
menggunakan ilmu itu untuk menyadarkan kedua orangtua mereka.
Keduanya sampai di sebuah gubug.
Rumah itu dihuni oleh seorang kakek yang sudah sangat tua. Kakek sakti itu dulu
pernah menjadi guru kakek mereka. Mereka mencoba mengetuk pintu.
“Silakan masuk, Anak Muda,” sambut kakek renta yang sudah tahu kalau mereka
adalah cucu-cucu bekas muridnya. Namun kakek itu sengaja pura-pura tak tahu.
Kusmantoro mengutarakan maksudnya, “Kami, kakak beradik yatim piatu. Kami ingin
berguru pada Panembahan.”
Kakek sakti bernama Panembahan
Manraba itu tersenyum mendengar kebohongan Kusmantoro. Namun karena
kebijakannya, Panembahan Manraba menerima keduanya menjadi muridnya.
Panembahan Manraba menurunkan ilmu-ilmu kerohanian dan kanuragan pada
Kusmantoro dan Kusmantari. Keduanya ternyata cukup berbakat. Dengan cepat
mereka menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan. Berbulan-bulan mereka digembleng
guru bijaksana dan sakti itu.
Suatu malam Panembahan memanggil
mereka berdua. “Anakku, Kusmantoro dan Kusmantari. Untuk sementara sudah cukup
kalian berguru di sini. Ilmu-ilmu lainnya akan kuberikan setelah kalian
melaksanakan satu amalan.” “Amalan apa itu, Panembahan?” tanya Kusmantari.
“Besok pagi-pagi sekali, petiklah dua kuntum melati di samping kanan gubug ini.
Lalu berangkatlah menuju istana di sebelah Barat desa ini. Berikan dua kuntum
bunga melati itu kepada Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna. Mereka ingin
menyadarkan Raja dan Ratu, kedua orang tua mereka.”
Kusmantoro dan Kusmantari terkejut.
Namun keterkejutan mereka disimpan rapat-rapat. Mereka tak ingin penyamaran
mereka terbuka. “Dua kuntum melati itu berkhasiat menyadarkan Raja dan Ratu
dari perbuatan buruk mereka. Namun syaratnya, dua kuntum melati itu hanya
berkhasiat jika disertai kejujuran hati,” pesan Panembahan Manraba.
Ketika menjelang tidur malam,
Kusmantoro dan Kusmantari resah. Keduanya memikirkan pesan Panembahan. Apakah
mereka harus berterus terang kalau mereka adalah Pangeran Aji Lesmana dan
Puteri Rauna? Jika tidak berterus terang, berarti mereka berbohong, tidak
jujur. Padahal kuntum melati hanya berkhasiat bila disertai dengan kejujuran. Akhirnya,
pagi-pagi sekali mereka menghadap Panembahan. “Kami berdua mohon maaf,
Panembahan. Kami bersalah karena tidak jujur kepada Panembahan selama ini.”
Saya mengerti, Anak-anakku. Saya sudah tahu kalian berdua adalah Pangeran Aji
Lesmana dan Puteri Rauna. Pulanglah. Ayah Bundamu menunggu di istana.”
Setelah mohon pamit dan doa restu,
Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna berangkat menuju ke istana. Setibanya di
istana, ternyata Ayah Bunda mereka sedang sakit. Mereka segera memeluk kedua
orang tua mereka yang berbaring lemah itu.
Puteri Rauna lalu meracik dua kuntum
melati pemberian Panembahan. Kemudian diberikan pada ayah ibu mereka. Ajaib!
Seketika sembuhlah Raja dan Ratu. Sifat mereka pun berubah. Pangeran dan Puteri
Rauna sangat bahagia. Mereka meminta bibit melati ajaib itu pada Panembahan.
Dan menanamnya di taman mereka. Sehingga istana mereka dikenal dengan nama
Istana Bunga. Istana yang dipenuhi kelembutan hati dan kebahagiaan.

Kebaikan : Sifat Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna yang jujur dan baik hati membawa kebaikan kepada keluarga meraka.

keburukan : Sifat kedua orang tua Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna yang suka berfoya-foya dan menindas rakya miskin sangatlah tidak baik karena membawa bencana bagi kluarganya sendiri dan diri mereka sendiri.

Kesimpulan : Kita sebagai makhluk ciptaan tuhan maka harus memiliki sifat dan sikap yang baik kepada orang lain,dan kejujuran akan selalu membuahkan kebaikan untuk siapanpun.

Daftar Pustaka :
http://peridongeng.blogspot.com/#!/2012/01/istana-bunga.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar