Kegiatan dalam rangka Bersih Desa
Dalam acara adat Bersih Desa para tani mengadakan beberapa kegiatan:
Dalam acara adat Bersih Desa para tani mengadakan beberapa kegiatan:
1.
Mengadakan penyimpanan padi secara rapi ke dalam
suatu tempat yang aman, yang dinamakan lumbung padi. Lumbung tersebut selain
diisi padi hasil panen, juga beberapa perlengkapan sesaji yang ditaruh di atas
tumpukan padi di daam lumbung tersebut. Alat perlengkapan sesaji tersebut
antara lain air putih dalam kendi yang terbuat dari tanah, ini mempunyai maksud
selain untuk memberikan minuman kepada Dewi Sri pada suatu saat jika
berkunjung, juga berarti membersihkan/keweningan agar seseorang berbuat bersih;
daun keluwih, mengandung maksud biar petani tersebut setiap panen padi diberi
kelebihan (luwih); daun sirih dimaksudkan untuk menyirih jika Dewi Sri
berkunjung; dupa atau kemenyan, sebagai perlengkapan sesaji. Dengan sesajian
tersebut para petani bermaksud selain menghargai dan menghormati Dewi Sri juga
agar Dewi Sri (Dewi Padi) ini dalam menjaga keselamatan para petani terutama
dalam pelaksanaan menanam padi, merawat dan memanen padi dapat berhasil dengan
baik.
2.
Kegiatan pembersihan. Biasanya dilakukan dengan
membersihkan kuburan, halaman, masjid, jalan-jalan atau gang-gang yang jarang
dilewati orang. Hal ini dimaksudkan agar keadaan kampung atau desa nampak
bersih. Kegiatan pembersihan ini dilakukan secara bersama-sama dengan
gotongroyong/kerja bakti.
3.
Mengadakan acara masak-memasak dan saling kunjung
mengunjungi. Dalam acara ini dilaksanakan apa yang disebut “Munjung” (pemberian
dari yang muda ke yang tua) dan “Weweh” yang (diberikan oleh yang tua kepada
yang muda), atau kepada kerabat dan kenalan dekat dengan dasar kasih sayang.
4.
Mengadakan kenduri bersama oleh seluruh warga desa,
yang biasanya diadakan bersama-sama di suatu halaman masjid atau
halaman/lapangan yang luas tertentu. Para penduduk membawa perlengkapan kenduri
masing-masing berupa nasi dan lauk yang ditempatkan pada baskom atau penampan.
Selanjutnya diadakan doa bersama yang dipimpin oleh seorang yang disebut
“Modin”. Dalam acara ini diadakan pemberian nasi kepada fakir miskin dan para
peminta-minta.
5.
Mengadakan hiburan. Ini adalah puncak acara Bersih
Desa/Mejemukan, biasanya dilaksanakan malam hari, antara lain mengadakan
pergelaran wayang kulit, ketoprak dan uyon-uyon. Semua ini untuk memberikan
hiburan pada masyarakat agar para penduduk gembira setelah kerja membanting
tulang di sawah. Ini juga sebagai tanda telah menikmati keberhasilan para tani
dalam menggarap sawah.
Makna Bersih Desa
Dengan mengamati berbagai kegiatan yang ada pada acara adat Bersih Desa/Majemukan tersebut kiranya dapat kita ambil maknanya:
Dengan mengamati berbagai kegiatan yang ada pada acara adat Bersih Desa/Majemukan tersebut kiranya dapat kita ambil maknanya:
§
Adanya rasa takwa dan hormat terhadap Tuhan Yang
Maha Esa. Ini dapat dilihat adanya kegiatan doa bersama dalam kenduri yang
dilakukan di halaman masjid atau lapangan secara bersama dan juga adanya sesaji
yang dimanifestasikan Dewi Sri sebagai dewa penolong terhadap keberhasilan para
petani.
§
Adanya perilaku rasa penghormatan terhadap orang
yang lebih tua atau yang lebih dulu ada. Ini memberikan suatu tauladan bahwa
yang muda sudah sewajarnya memberi hormat kepada yang lebih tua. Bagaimanapun orang yang lebih tua itu
sebagai panutan.
§
Adanya rasa kebersamaan persatuan, gotong-royong
berarti menghilangkan individualisme dan egoistis. Ini dapat kita lihat dalam
kerja sama dalam melaksanakan keberhasilan kenduri bersama.
§
Adanya sikap perilaku kemanusiaan ini bisa kita
lihat dengan cara membagi sedekah/makanan kepada fakir miskin/peminta-minta
waktu kenduri bersama.
§
Mengajarkan
tentang kesehatan, kebersihan dan keindahan yang bisa kita lihat adanya
pelaksanaan kebersihan kuburan, jalan-jalan sepi dan lain-lain, sehingga akan
membuat keindahan di samping kesehatan.
§
Mengajarkan tentang kehidupan yang teratur, penghematan
dan pemanfaatan. Penyimpangan hasil panen padi ke dalam lumbung dengan maksud
agar para petani tidak mengalami kekurangan, sehingga akan tercapai pengaturan
ekonomi yang baik.
Dengan adat Bersih Desa/Mejemukan yang
merupakan warisan adat istiadat sebagian bangsa Indonesia ini seyogyanya
dipertahankan dan dilestarikan agar jangan musnah. Hal ini perlu diketahui oleh
generasi muda sebagai generasi penerus bangsa yang perlu menjiwai nilai-nilai
luhur bangsa yang berdasar Pancasila.
Jika kita lihat kenyataan dalam perkembangan zaman teknologi yang berpangkal pada kehidupan modern, maka adat istiadat bangsa Indonesia ini akan menghadapi tantangan berupa pergeseran nilai. Tidak mustahil pergeseran nilai dapat mendangkalkan adat istiadat leluhur, terlebih pada generasi muda yang masih belum kuat dan belum mampu mengantisipasi kedatangan budaya asing yang serba modern yang mendasarkan pada kemampuan teknologi dan melupakan sumber nilai-nilai luhur yang mengakar pada adat istiadat kebudayaan bangsa kita. Kalau pergeseran nilai dibiarkan berlarut-larut, maka tidak mustahil adat Bersih Desa atau Mejemukan akan dilupakan dan bahkan tidak dikenal oleh generasi muda dan akhirnya akan hilang sama sekali. Kalau hal itu terjadi sangat disayangkan.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1993. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Depdikbud.
http://uun-halimah.blogspot.com/2007/11/tradisi-bersih-desa-dalam-kehidupan_12.html
Jika kita lihat kenyataan dalam perkembangan zaman teknologi yang berpangkal pada kehidupan modern, maka adat istiadat bangsa Indonesia ini akan menghadapi tantangan berupa pergeseran nilai. Tidak mustahil pergeseran nilai dapat mendangkalkan adat istiadat leluhur, terlebih pada generasi muda yang masih belum kuat dan belum mampu mengantisipasi kedatangan budaya asing yang serba modern yang mendasarkan pada kemampuan teknologi dan melupakan sumber nilai-nilai luhur yang mengakar pada adat istiadat kebudayaan bangsa kita. Kalau pergeseran nilai dibiarkan berlarut-larut, maka tidak mustahil adat Bersih Desa atau Mejemukan akan dilupakan dan bahkan tidak dikenal oleh generasi muda dan akhirnya akan hilang sama sekali. Kalau hal itu terjadi sangat disayangkan.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1993. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Depdikbud.
http://uun-halimah.blogspot.com/2007/11/tradisi-bersih-desa-dalam-kehidupan_12.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar